Author:
• Thursday, February 09th, 2012

Sebuah iklan tentang korupsi mulai sering muncul di TV. Awalnya nyontek di kelas, lalu selingkuh saat pacaran, lanjut nyogok polisi saat ngelanggar lampu lalu lintas dan  korupsi saat jadi bos, berakhir dipenjara!

mengikuti alur iklan tersebut, ada sebuah benang merah bahwa cikal bakal korupsi itu dibentuk disebuah lembaga pendidikan formal yang disebut sekolah. pembiaran-pembiaran praktik curang seperti menyontek atau nyontek berjamaah, atau malah nyontek berizin akan membentuk generasi curang dan korup!

Bahkan yang paling baru, model iklan anti korupsi kini malah tersandung kasus korupsi. Sebuah ironi bangsa ini!!! anggota Dewan yang terhormat ternyata tidak lebih dari kumpulan mafia anggaran. Dan mereka yang dilingkar dalam kekuasaan pun cendrung, sepertinya, tidak lebih jujur dan bersih dari berita-berita koran hari ini

 

Author:
• Tuesday, August 30th, 2011

Belajar itu banyak caranya. Ilmu bisa datang dengan banyak cara. Begitu pula harta. Tetapi kebijaksanaan itu hanya datang pada pribadi yang sudah siap, pribadi-pribadi yang telah mampu mensyukuri gilasan jaman, hadangan hinaan, dan gelanggang gangguan dan cobaan di alam material.

Salah satu pribadi yang menunjukkan kebijaksanaan itu padaku adalah Aridus, meskipun tidak sempurna benar! Tetapi Aridus dalam langkah kesehariannya mampu mengingatkanku sebagai orang Bali. Mahluk tradisi yang terlena dam puja pujian dan seringkali tega menyalahkan tanah leluhur karena bacaan-bacaan tingkat tinggi yang melihat Bali ini sebagai sebuah obyek.

Aridus, lelaki tua dengan semangat muda yang tak kunjung padam, menunjukan kecintaan pada Bali melalui tulisan-tulisannya. Setiap minggu, dengan setia menemani ku menikmati liburan di pagi hari. Obrolan bale banjar, yang semakin hari semakin cerdas dan keras.

Mulai mengenal Aridus, saat duduk di bangku SMP. Melalui tokoh, Si Rubag, sering membuatku tertawa. Merangkum peristiwa yang terjadi di Bali dalam format dialog jenaka. Bagiku, inilah cara khas orang Bali dalam menyampaikan sesuatu yang keras mengkritisi. Sambil “meboya” bercanda melemparkan kritik-kritik konstruktif.

Seiring waktu, semakin sering membaca obrolan Si Rubag. Aku merasa Si Rubag tidak hanya tahu masalah pariwisata yang selalu bersinggungan dengan adat. Dia tidak hanya paham seluk beluk premanisme di kota Denpasar, sejak era Armada Racun hingga sekarang. Rubag ternyata juga memperhatikan dagelan-dagelan pemerintahan di pusat hingga krisis keuangan global.

Bahkan, sekarang ini Rubag sudah semakin sering membawa-bawa  filusuf-filusuf asing dalam dialognya. Rubag, selain mencintai budaya Bali juga pengagum budayanya orang-orang dari negeri sakura, terasa semakin mengglobal – meskipun permasalahan yang kerap dijadikan tema besar dalam tulisannya masih tetap berpijak pada tanah Bali.

Kembali pada sosok Aridus, guide professional yang pernah menjadi ketua DPD himpunan pramuwisata Bali. Lelaki Bali tulen. Lelaki yang mencintai Bali. Adalah sosok Rubag itu sendiri. Sekarang ini lebih menikmati hari-harinya sebagai seorang kakek dengan sembilan cucu. Mengantar cucu sekolah dan bercengkrama ke dalam diri.

23 Agustus lalu, akhirnya aku bisa duduk di ruangan tamu Aridus. Ruang tamu penuh buku. Bertemu muka- face to face dengan sosok “Rubag”. Tanpa rasa aku dibawa masuk ke dalam “obrolan bale banjar”, mengenang peran penting jalan Veteran dalam perkembangan Denpasar dan pariwisata di Bali.

Aridus bercerita, dan aku hanya bisa duduk mendengar. Persis seperti membaca obrolan bale banjar di Koran minggu. Terkadang aku tersenyum meskipun tidak jarang merenung, mendengar Aridus bercerita, meletupkan ide-ide tentang Denpasar dan Bali.

Tak terasa dua jam aku mendengar Aridus bercerita, kopi pun sudah habis (sedari tadi) dan aku sempat lihat aridus mengganti bungkus rokoknya dengan yang baru-padahal aku tidak ikut menghabiskan isi bungkus itu! Istri dan anaknya pun sempat dikenalkan.

Satu pesannya, sebelum aku pulang. “Jangan ikut-ikutan menusuk tradisi Bali yang masih lestari ini, kalau ada salah perbaiki, kalau ada kurang tambahkan.”

Author:
• Friday, May 13th, 2011

Catatan ringan tirta yatra 8 Mei 2011 dengan Lansia Banjar Tengah Sesetan

Methirta Yatra atau mengunjungi tempat-tempat suci untuk melakukan persembahyangan sambil menapaki kesadaran sebagai mahluk ciptaanNya, Minggu 8 Mei lalu terasa begitu spesial. Bukan karena mendapat anugrah berupa benda ataupun pawisik tetapi karena tirta yatra kali ini menemani para lansia di lingkungan Banjarku.

Mereka ini adalah kelompok lansia yang aktif mengikuti senam lansia dan juga latihan yoga plus meditasi.  Kegiatan yang rutin dilakukan dua kali dalam seminggu. Setiap Kamis sore dan Minggu sore. Tempatnya di b alai Banjar Tengah Sesetan. Tidak semua lansia memang yang ikut. Paling tidak ada 35 lansia yang rajin hadir dari 90 an yang terdaftar. Aku kebetulan ikut menjadi pendamping untuk kegiatan senam yoga dan meditasinya.

Kegiatan olah raga yang dua kali seminggu itu ternyata memberikan dampak yang sangat bagus, menurutku. Setidak-tidaknya pada tirta yatra kali ini. Berangkat dengan menggunakan dua bus pariwisata. Disamping lansia beberapa anggota PKK dan sekhe santi juga ikut serta.  Tentunya mereka ini masih jauh lebih muda dan sehat. Hasil akhirnya, dalam perjalanan selama 15 jam itu, dari lima orang yang muntah, tidak ada satupun dari lansia.  semuanya lansia tetap bugar dan bisa tersenyum ketika sampai kembali di banjar tenagh pukul 21.35

Minggu pagi itu, hujan dengan Guntur sepertinya menguji semangat para lansia untuk berangkat tirta yatra. Syukur hujan tidak terlalu lama. Jam 7.30 pagi aku lihat semua lansia sudah berkumpul di balai banjar. Lengkap dengan tas bekalnya masing-masing. Maklum, kepala lingkungan yang bertindak sebagai penanggung jawab kegiatan hanya menyediakan trasportasinya saja.

Kali ini jalur yang dipilih adalah arah barat, Journey to the west. Target pertama, pura Rambut Siwi yang berada di sisi timur kota Negara. Pura ini populer karena merupakan salah satu dari enam pura utama di Bali. Disamping merupakan tempat persinggahan bagi para pengendara Hindu yang akan menuju tanah Jawa ataupun datiang dari tanah Jawa. Berhenti sejenak memohon keselamatan dan tak jarang melepas penat sambil menambah perbekalan.

Karena menggunakan Bus, rombongan harus masuk dari areal parkir  terbawah. Para lansia yang melihat tingginya tangga menuju pura sempat menarik nafas panjang. Maklum, beberapa ada yang memiliki riwayat sesak nafas dan beberapa lainnya memiliki masalah pada kaki-kaki yang mulai renta. “Sing pegat angkihan we, menek?” atau “ Nyidang batis we ked meduur?” itulah pertanyaan mereka.

Akupun hanya bisa bilang, “Adeng-adeng gen menek we. Yen kenyel nak dadi negak!” Rupanya, pura-pura besar  di Bali hanya bagi mereka yang sehat dan kuat saja. Pikiranku mengingat tangga pura besakih, Lempuyang  dan uluwatu.  Melihat kaki-kaki renta yang telah menopang tubuh lebih dari 65- 70 tahun, dalam pola kehidupan yang tidak sehat, jelas terlihat tangga-tangga dari batu hitam yang mahal dan mewah merupakan terror bagi mata-mata yang mulai rabun itu.

Syukur semua rombongan bisa memasuki areal pura. Meskipun dua- tiga lansia harus dipapah. Dan hal pertama yang mereka lakukan ketika sampai di depan pura adalah mencari tempat duduk yang teduh – kami sampai di sini jam 11.30- melepas lelah dan mengatur nafas.

Selesai bersembahyang, saatnya tantangan baru menunggu. Menuruni tangga. Bagiku tentu bukan masalah, tetapi bagi para lansia ini, menuruni tangga adalah masalah. Sama susahnya dengan naik. Kakinya harus turun, menapaki satu anak tangga ke anak tangga yang berikutnya, perlu perjuangan.  Menahan agar badannya tidak meluncur ke bawah. Saling berpegangan menjadi solusinya.

Rombongan menikmati makan siang, dari bekal masing-masing, di areal parkir. Lumayan untuk melepas lelah. Ada rasa bangga dan syukur ketika aku melihat wajah-wajah tua, tersenyum dalam canda mereka. Ah, semoga Hyang khalik memberiku waktu sepanjang mereka, tentunya dengan tubuh yang lebih sehat.:)

Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan menuju kuburan Jaya Prana, di daerah Teluk Terima. Tempat ini populer karena legenda Jaya Prana yang hidup ditengah-tengah masyarakat Bali. Tidak banyak yang bisa aku ceritakan mengenai perjalanannya. Maklum, perut kenyang dan saat-saat mata ngantuk. Aku terbangun lima menit sebelum lokasi. Lebih dari satu jam rupanya aku tertidur.

Segerombolan monyet terlihat menatap rombongan, ketika kami berkumpul di depan jalan masuk menuju tempat sembahyang. Informasi dari salah satu petugas, bahwa jarak makam Jaya Prana dari sisi jalan itu sekitar 400 meter, membuat aku bertanya-tanya, akankah para lansia, kakek nenek dan bibiku bisa sampai? Beberapa dari mereka berinisiatif mencari dahan kayu untuk tongkat, penyangga dalam perjalanan. Dan beberapa lansia sempat harus duduk menarik nafas di tengah perjalanan. Akhirnya semua bisa sampai dan bersembahyang di makam Jaya Prana.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju pura Pemuteran, disebut pura Pemuteran karena terletak di desa Pemuteran. Lokasi pura ini sangat nyaman bagi para lansia. Parkir yang sangat dekat dan pancuran air hangat untuk membasuh muka, kaki dan tangan di areal pura membuat para peserta merasa lebih segar dan tidak terlalu menguras tenaga mereka. Jalan dan tangga tidak menjadi terror! Oya, jarak dari makam Jaya Prana ke pura Pemutaran ini tidak terlalu jauh, kurang dari 20 menit berkendaraan.

Dari Pemuteran perjalanan dilanjutkan menuju pura Pulaki. Di daerah Pulaki, Singaraja. Tidak terlalu jauh dari Pemuteran, sekitar 10 menit berkendaraan. Baru turun dari bus, rombongan sudah disambut monyet-monyet yang mendekat.

KAmi semua sudah diingatkan sebelumnya untuk berhati-hati di Pulaki. Barang-barang lebih banyak kami biarkan di dalam bus. Monyet-monyet di sini terkenal dengan gerakannya yang cepat dalam mengambil barang yang di bawa pengunjung.

Kamera pun terpaksa tidak berani aku keluarkan, karena melihat tatapan-tatapan monyet-monyet yang seperti mengincar. Salah satu peserta rombongan pendamping dari PKK banjar yang membawa Mie Gelas dibuat terdiam ketika seekor monyet besar mengambil gelasnya. Tidak ada perlawanan sama sekali. Aku pikir mirip seperti kalau kita dipalak preman yang sangar. Awas lho, kalau teriak! Mungkin begitulah arti tatapan mata si monyet sambil memperlihatkan gigi-giginya.

Akhirnya semua rombongan tiba di areal dalam pura untuk bersembahyang.  Aku tersenyum saja ketika melihat tempat menghaturkan banten dikelilingi  jala dari kawat. Mirip kerangkeng menurutku. Dengan ranta-rantai dan gemboknya. Aku tidak ingat betul kapan tempat banten yang ada kerangkengnya itu dibuat, maklum sudah lebih dari 20 tahun tidak pernah bersembahyang di pura ini. Paling hanya lewat ataupun kalau mampir tidak pernah ikut bersembahyang, lebih senang melihat orang-orang yang terkaget-kaget ketika diloncati monyet.

Ketika rombongan sudah menaruh banten di “kerangkeng” dan duduk untuk mulai persembahyangan, baru aku sadari kalau rombongan ini dikawal oleh beberapa pengayah pura yang membawa kayu. Ya mirip para polisi yang mengamankan demo mahasiswa. Hanya saja bukan rombongan kami yang menjadi obyek pengamanan itu. Para monyetlah yang dijaga agar tidak mengganggu kami. Wuih terasa jadi pejabat saja!!!

Monyet-monyet itu cukup cerdas juga, mungkin benar karena masih satu jalur dengan kita kali ya…mereka mengawasi para penjaga, menunggu mereka lengah dan bergerak mendekati kami. Alhasil, saat melakukan panca sembah, mataku tidak bisa terpejam lama. Sebentar-sebentar aku melirik monyet yang di depan, di atas dan di samping. Mungkin sebagian besar rombongan sepertiku.

Dan benar saja, begitu selesai panca sembah yang terakhir. Seekor monyet besar sudah berada di tengah-tengah rombongan. Berjalan pelan melihat apa yang bisa diambil. Para penjaga kecolongan! Dan kami pun cukup ketakutan! Syukur si monyet besar ini mau pergi setelah diancung-ancungkan kayu oleh para pengayah pura. Hanya canang dan kewangen dari salah satu lansia yang diambilnya.

Aku sempat merasa, inilah persembahyangan yang penuh dengan terror. Dari baru masuk, saat sembahyang hingga keluar selalu ada mata-mata yang mengawasi. Lengah sedikit barang bawaan akan berpindah tangan. Jadi teringat dengan Pasar ular di Jakarta Utara dahulu.

Nakalnya monyet-monyet di pulaki sudah terkenal. Kenakalan mereka tentunya ada penyebab. Salah satunya adalah berkurangnya buah-buahan di dalam hutan sehingga mereka memilih mencari makan di areal pura. Dan tidak adanya makanan yang memadai telah membuat monyet-monyet ini biasa melakukan barter dengan cara mengambil barang pengunjung atau orang yang bersembahyang untuk ditukar dengan pisang, buah atau kacang.

Dalam lanjutan persembahyangan menuju pura pasar agung, pura melanting dan pura kertha kawat. Kelakuan monyet-monyet Pulaki tadi seperti memberikan gambaran masa depan tentang Bali ini. Suatu saat nanti orang-orang Bali ini tidak ubahnya akan seperti monyet-monyet di Pulaki yang harus belajar menjambret untuk sekedar memdapatkan makanan.

Setelah seluruh lahan garapan berpindah tangan, setelah semua sawah, hutan dan lading berubah menjadi hotel dan private villa. Para pemilik hotel dan villa membayar preman-preman bersenjata untuk menjaga areal hotel dan villa dari intipan mata-mata lapar orang-orang Bali. Pekerja-pekerja hotel dan villa pun sudah didatangkan dari luar Bali, karena mereka liburnya… pasti dan lebih sedikit dari orang bali yang  begitu sering, tiba-tiba, harus ijin karena ada kerjaan adat.

Seremonial di pura-pura pun nantinya akan diselenggarakan oleh EO-EO professional yang waktunya bisa sewaktu-waktu sesuai dengan pesanan. Karena pengempon pura sudah tidak mampu lagi melaksanakan odalan yang hanya menghabiskan biaya besar dan menjadi tontonan gratis para toris.

Ahh sembahyang dalam terror di Pulaki telah benar-benar meneror Masa depan Kebalianku!!!

Author:
• Friday, April 22nd, 2011

Selamat Hari BUmi buat kita semua…yang masih hidup di muka bumi ini.

Pagi ini, terasa berat meninggalkan bantal dan kasur. Hujan sejak subuh membuatku ingin lebih lama lelap di atas kasur. AKhirnya panggilan mesra ibu dari anak-anak memaksa menanggalkan malas itu di tempat tidur.

Sudah jam 8 ternyata! guyuran air di bak mandi pun terasa segar. Menghalau kantuk dan malas badan. keluar dari kamar mandi sepiring nasi dengan tempe bumbu goreng tersaji. Wuih enaknya.. pagi yang segar, mata pun segar, sementara perut terasa hangat menerima kiriman nasi dan tempe hangat. :)

Ternyata hari ini dirayakan sebagai hari bumi. Seorang teman menuliskan itu di statusnya. Aku tidak terlalu paham akan hari bumi. Maklum “nak Bali” sudah terlalu banyak memiliki hari yang harus dirayakan. Kalau untuk mengingatkan pelestarian alam kami sudah punyak Tumpek Wariga.

MAtaku terpaku pada acc. FB temanku Wahyu, sang photographer. Pagi ini dia upload “oleh-oleh” dari kameranya. Sebagian besar tentang Bali dan prosesi ritualnya. Memang dia semakin canggih. Moment-moment tercantik dan menggelitik terekam indah. Komposisi warnanya membuatku semakin takjub akan keindahan tanah kelahiranku.

Tanpa seijinnya aku download dua buah foto, yang menggelitik hati di hari bumi ini. dua foto yang sering mengusik hatiku. Orang Bali, termasuk aku di dalamnya, terlalu asik masyuk dalam kemeriahan ritual dan sepertinya, utamanya aku, terlalu jauh meninggalkan realitas praktis dari makna ritual yang aku (kami) lakukan.

pertama, foto prosesi melasti ini

Langit yang biru terpantul indah pada laut. buih putihnya ombak terasa seimbang dengan putihnya baju para umat. Manusia menyeru kepada alam dan alam menerimanya. Ya.. sebuah prosesi melasti yang terekam.

Melasti adalah sebuah ritual pembersihan. Permohonan kepada Hyang Baruna, penguasa samudra untuk membersihkan segala hal yang kotor,pada kami manusianya, pada alat-alat ritual yang akan kami pakai upacara. sehingga semua yang terlibat dalam upacara nantinya telah bersih, secara sekala dan nis-kala.

Foto ini juga seperti mengingatkanku, bahwa yang mengusik hati memang semakin kentara. Serakan sampah diantara air laut dan umat yang sedang melaksanakan prosesi melasti terhampar jelas. Bisa jadi sepanjang pantai ini dipenuhi sampah. Belumlah aku lupa, kalau sampah di pantai kuta telah menghiasi majalah Time dan memberikan julukan baru buat Bali, Tempat liburan Neraka! Ya.. ritual telah terlampau jauh dari realita :(

foto kedua: sang penjaga tradisi

Lihatlah foto ini. Dua remaja Bali, setelah menari Baris. Melepas lelah diantara hijaunya tanaman padi dengan tombak menancap. Wuihh.. benar-benar moment yang cantik. Wahyu..emang top.  foto ini memberi makna simbolik yang kuat. Remaja sebagai generasi penerus, dalam pakian penari memberi kepastian akan keberlanjutan tradisi Bali. Tombak yang tertancap, menunjuk langit dan tugu bedugul (sanggah) bahwa kami (nak Bali) siap menjaga tradisi ini tetap ajeg lestari di muka bumi. Wajah santai dengan senyum..ya kami menjaganya tetap dalam keramahan ala Bali.

Hanya saja, Botol mineral yang sedang diminum salah satu penari seperti pengingat bagiku. Bahwa alam Bali yang indah, juga akan rusak karena kami. Nak Bali yang sibuk menjaga tradisi tetapi tetap dituntut hidup dalam alam modern. Padi yang hijau mungkin tidak kan lama bisa dilihat. Karena banyak tanah yang harus tergadai demi membeli air dalam botol kemasan. Air-air yang mengaliri parit dan sungai di Bali akan dihentikan oleh tumpukan plastik yang kami beli dengan menggadaikan tanah. Maka akhirnya harga diripun akan tergadai (lihatlah gelungan penari yang nangkring di atas pagar tugu itu. Semoga itu masih lama….

tulisan iseng ini dibuat karena pesona fotonya Wahyu dan juga ngga ada acara di liburan paskah kali ini.

Santi Selalu Sahabat…

Category: Uncategorized  | 2 Comments
Author:
• Monday, January 03rd, 2011

Menapaki Siwa Ratri selalu memunculkan pergulatan dalam hatiku. Inilah malam penting dalam proses pembelajaran diri. Inilah saat yang baik untuk melakukan dialog batin dan tentu saja hari yang selalu memberikan sebuah pemahaman-pemahaman baru akan telaah praktis dari cerita lubdaka.

Cerita yang paling erat dengan malam siwa rartri adalah cerita lubdaka, cerita yang tertulis dari tangan Mpu Tanakung ini sarat dengan ajaran-ajaran kelepasan. Penyampaian pesan yang tidak terlalu samar dalam kekawin siwa ratri kalpa membuat tafsir cerita cepat menemukan kesepakatan. Meski, tentu saja, tafsir-tafsir lanjutan akan terus ada berdasarkan pengalaman dari sang penikmat sendiri.

Pada satu bagian cerita, dikisahkan lubdaka yang seperti biasa pergi berburu ketengah hutan tidak menemukan satu hewan buruan, hingga larut perburuannya tetap tiada hasil. BInatang hutan seperti lenyap ditelan rimbunnya pohon. Lubdaka pun menjadi ketakutan ketika gelap telah menutupi hutan…

Bayangan Harimau dan binatang buas lainnya seperti menghantui pikirannya. Dalam ketakutannya, Lubdaka pun memanjat pohon besar, ke dahan tertinggi yang bisa diraihnya. Pikirnya tentu lebih aman berada di dahan pohon yang tinggi, bebas dari sergapan binatang buas…

Berhenti pada bagian ini, Mpu Tanakung seperti mengingatkan kepada para pendaki spiritual bahwa setelah semua nafsu kebinatangan dalam diri berhasil dibunuh maka akan muncul ketakutan…

Lubdaka (sang diri) begitu gamang ketika menelisik hutan dan tidak menemukan satu binatang buruannya…Sang diri pun sepertinya akan berada dalam kegamangan yang sama ketika sifat-sifat binatang untuk pertama kalinya berhasil dihilangkan, kenapa .. mengapa dan bagaimana .. tentu akan muncul silih berganti dalam pikiran.

Setelah kegamangan itu semakin menjadi-jadi maka muncullah rasa takut. Takut akan munculnya kembali sifat-sifat binatang yang semakin buas, yang akan menjerumuskan lebih dalam ke lembah derita. Kebuasan nafsu,keangkuhan ego; karena merasa diri paling bersih, paling benar dan paling suci akhirnya akan membuat pendakian spiritual menjadi sia-sia bahkan… terperosok lebih dalam

Kembali Mpu Tanakung memberikan jawaban akan ketakutan itu, dakilah pohon besar..dalam bahasa bali kayu besar, kayu menjadi kayun atau pikirin.  Hanya dengan menaiki pikiranlah rasa takut itu akan bisa dikalahkan, manaiki pikiran sama dengan mengatasi pikiran itu sendiri. Semakin tinggi tingkat konsentrasi maka semakin kecillah rasa takut.

Dalam praktiknya bermeditasilah…pusatkan pikiran, setelah terpusat  atasilah dia sehingga kita bisa mengontrol dengan sesadar-sadarnya pikiran itu. Bukankah segala sesuatu berawal dari pikiran??

Kelak, setelah sang diri mampu mengatasi pikirannya, disitu akan menjadi jelas terlihat apa yang harus dilakukan untuk mencapai Sang Hyang Siwa, Tuhan Yang Agung….yaitu ketika lubdaka memetik daun Bila dan melepaskannya ke kolam yang ada di bawahnya dimana katanya di kolam itu ada lingga sebagai pralambang Siwa.

Petiklah pengetahuan yang telah kita miliki, termasuk harta benda, untuk dibagikan kepada masyarakat, umat Siwa yang Agung itu. Karena tidak ada guna dan faedahnya ketika pengetahuan dan  harta berlimpah hanya menjadi bekal kubur yang musnah terbakar api perabuan.

Nah ketika itu telah tercapai dan terlaksana maka … barulah tiba sang kala akan menghantarkan penjemputan dari widyadara widyadari siwaloka, berkereta kencana, dikawal ribuan balapati sehingga sang yama, dewa kematian pun hanya boleh menjadi penonton.. melihat iring-iringan kasiwan melewati dualisme yang dijaganya, sorga dan neraka..

Selamat merenung di malam Siwa …..

Category: Cermin  | Leave a Comment
Author:
• Tuesday, December 21st, 2010

Orang Bali menempatkan Ibu di bawah kakinya, Sedikit aneh rasanya mendengar celotehan sahabatku, Komang Wirya, saat membicarakan posisi Ibu orang Bali menjelang Hari Ibu besok. Setahuku orang Bali, utamanya yang beragama Hindu begitu memuliakan sosok ibu, bahkan dalam susastra-susastra suci jelas disebutkan bahwa hanya di dalam rumah yang memperlakukan para ibu dengan baiklah kebahagiaan itu akan datang, sebaliknya di mana kaum ibu tidak dihormati maka kehancuran adalah kepastian.

Rupanya kalimat itu terlontar dari pemahaman, Komang akan frase meme pertiwi lan Bapa Akasa, secara kata perkata berarti Ibu adalah bumi dan Bapak adalah ANgkasa. Begitu rendahnya ibu dimata orang Bali sehingga dia ditempatkan di bawah dan dijadikan pijakan kaki?

Pastilah tidak!, sebagai orang Bali aku sangat yakin, Ibu memiliki arti yang sangat mulia, terhormat dan sejenisnya, pokoknya yang hebat dan number one. Ibu adalah wanita yang telah sempurna (ibu ’meme’ adalah panggilan untuk wanita yang telah memiliki anak) Jadi mereka yang berhak dipanggil Ibu adalah para wanita yang telah memiliki anak, baik anak kandung ataupun anak angkat- Anak sendiri dalam pemahaman orang Bali seperti  masyarakat dunia pula, ada anak biologis dan anak angkat.

Dalam sosioreligiusnya pun  terlihat bagaimana ibu ditempatkan sangat mulia, Bhatara yang disembah di pura-pura umumnya di sebut Ratu Ayu, yang perwujudannya sering dalam rupa Rangda- sosok ibu yang begitu menyeramkan, tetapi rangda di bali yang disembah jelas bukan monster. Rangda ini adalah perwujudan seorang ibu yang telah Nadi (gampangnya nadi diartikan sukses)

Api yang ada di ubun-ubun merupakan symbol kecerdasan, karena ini menggambarkan cakra ubun-ubun yang telah terang sinarnya laksana api, aspek kecerdasan tergambar disitu. Lidahnya menjulur juga memperlihatkan api yang merupakan symbol perkataanya sakti mandi, apapun yang terucap akan didengar dan dituruti. Wajah yang seram, dengan mata mendelik dan gigi yang terlihat menunjukan sikap keras dan galak, ini satu rangkaian dengan kuku yang panjang sebagai symbol bahwa ketika seorang ibu harus melindungi anaknya dari gangguan luar maka dia akan lebih galak dan menyeramkan dibanding singa sekalipun. Susunya yang besar merupakan simbol cukupnya kasih sayang (gampangnya memberikan asi kepada anaknya).

Kembali ke maksud Komang Wirya, rupanya  tanpa sosok Ibu sangat mustahil kita bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. Menurut nya seorang ibu rela menanggung beban yang begitu berat demi melihat anak-anaknya berhasil. “Hanya di bumi kehidupan itu bisa bertumbuh dengan indah, bukan di langit!” katanya

Lebih lanjut, “sudah sewajarnyalah disaat kesadaran akan penyelamatan bumi yang semakin massive, kita sebagai orang Bali juga kembali lebih memaknai arti seorang Ibu dalam hidup dan lebih bias mengaplikasikan pesan-pesan dari sastra-sastra suci untuk memuliakan wanita,” kata Komang

Wanita itu jauh lebih lengkap dari kaum pria, bila para pria memiliki tiga rongga dalam diri mereka maka para wanita memiliki empat rongga, yaitu rongga di kepala, rongga di dada, rongga di perut dan terakhir rongga di rahim, dimana kita-kita ini semua pernah indekos selama kurang lebih 9 bulan. Ngekos tanpa ongkos.

Dada mereka dilengkapi dengan pabrik susu, sementara kaum pria putting susunya Cuma cantelan kenikmatan semata. Putting susu para ibu bias mengalirkan susu terbaik di segala zaman, kaki mereka yang indah sangat kokoh menyangga tubuh yang mengandung generasi berikutnya.

Jadi penggambaran wanita sebagai bumi sangat tepat bila dilihat dari fungsi wanita sebagai tempat kehidupan itu bermula, bumi menyangga kehidupan begitu juga dengan kaum ibu. Begitu mulia dan pentingnya wanita di bali sehingga isu kesetaraan gender yang membuat lahirnya hari ibu tahun 1938 atau sepuluh tahun sejak kongres perempuan Indonesia yang pertama tidak segempita di luar.

Karena di Balilah kesetaraan gender, atau kesamaan peran antara pria dan wanita tidak pernah dipertentangkan. Pria dan wanita di Bali sama-sama bisa melakukan pekerjaan yang sama, mulai dari tukang bangunan ada yang pria dan ada juga wanita, kalau guru sudah pasti ada pria dan wanita, pembuat banten juga ada pria dan wanita bahkan pemimpin upacara pun ada pria dan wanita.

Bahkan setahuku, saat seorang suami akan mediksa/dilantik menjadi pendeta ataupun pinandita maka sang istripun akan ikut mejalani prosesi itu. Sehingga baik yang pria ataupun yang wanita memiliki hak yang sama untuk menjadi sang pemuput/pemimpin  upacara.

Kalaupun masih ada perlakuan yang tidak sama, mungkin  terlihat pada organisasi Banjar yang masih mengutamakan kaum pria dalam rapat mengambil keputusan organisasi. Meskipun telah ada terobosan di kota denpasar, kaum wanita membuat organisasi banjar sendiri yang saat ini belum umum, tetapi sudah ada… mungkin terbawa dalam gerakan persamaan gender… sehingga ada sekelompok wanita Bali dari golongan akademisi ataupun intelektualnya gebyah uyah memperjuangkan persamaan gender di Bali ini, walaupun itu sedikit melawan adat dan tradisi yang mereka warisi, semuanya sah dan wajar asal tidak sampai mengalami guncangan jiwa seperti pendapat Bu Dokter Suryani  ”Bali memang mengalami pergeseran sosio budaya karena banyaknya pengaruh dari luar,” tulis Suryani. “Namun, masyarakat Bali tidak mengalami keguncangan jiwa. Karena pergeseran nilai-nllai sosio budaya dalam sebuah proses adaptasi ternyata berlangsung sangat perlahan.”

Asal jangan kesetaraan gender ini kelak mendemo sang pencipta dengan  tuduhan tidak adil, karena menciptakan hanya wanita yang dibuat bisa melahirkan dan laki-laki hanya bisa membuahi, khan enaknya laki-laki dapat juga, tetapi susahnya hanya menjadi bagian si wanita.

Akhirnya Komang Wirya dan aku sepakat bahwa wanita bali yang telah sempurna (ibu) adalah mahluk terindah yang pernah diciptakan Tuhan dan mahluk ciptaannya yang paling layak untuk mendapatkan utamaning bakti  dan cinta dari Anak-anak Bali yang ingin hidup bahagia di dunia ini.

Selamat menyambut hari Ibu… sahabat…tetap jaga, hormati dan sayangi semua ibu di muka bumi ini

love for my mom and mother of my children

Category: Uncategorized  | 3 Comments
Author:
• Wednesday, December 15th, 2010

Umumnya Galungan dikenal sebagai perayan kemenangan dharma melawan adharma. Bagiku ini sedikit kurang logis, sebagai orang Bali yang beragama Hindu tentu saja aku mempercayai konsep Rwa Bhineda, atau bahasa bukunya Binary Opposition. Dharma tidak pernah menang melawan Adharma pun Adharma tidak pernah menggungguli dharma, Yin dan Yang selalu ada untukmembuat hidup ini ada.

Kalau kita mengacu pada pertunjukan calon arang yg kerap kita tonton di jaba-jaba pura saat “mencoba” ratu ayu yang baru selesai di pasupati ulang, maka akhir dari pertunjukan adalah sebuah pertarungan abadi antara barong dan rangda. Rangda tidak kalah pun Barong. Ada yg bilang barong lambang kebaikan dan rangda lambang kejahatan.

Cukup aneh kan kalau rangda sebagai simbol kejahatan,  dipuja oleh umat sejajar dengan barong? Kiranya persepsi ini perlu dikembalikan lagi ke habitatnya…pertarungan barong dan rangda  adalah simbol pergulatan aspek maskulin dan feminim di dunia ini  dan juga dalam raga kita sendiri. Barong sebagai lambang maskulin dan rangda mewakili aspek feminim…

Kembali ke perayaan Galungan, bisa dikatakan ini sebagai urutan hari raya yang sangat panjang, bayangkan secara umum perayaan galungan ditandai dengan datangnya tumpek bubuh, atau tumpek pengatag yang juga dikenal sebagai tumpek pengarah (penjelasannya tdk sy tuliskan lagi) lalu sugihan jawa, sugihan bali, penyajaan atau penyekeban, penampahan, galungan, manis galungan kemudian berlanjut hingga ke hari kuningan.

Tentunya saya tidak akan kembali mengatakan ini perayaan kemenangan Indra atas Mayadenawa, dharma atas adharma. Biarlah itu berlalu sebagai sebuah interprestai yang berbeda..persepsi yang menurut saya sangat pas adalah prosesi galungan sebagai perayaan akan salah satu proses kehidupan orang Bali yaitu prosesi pernikahan, sebuah prosesi awal bagi seorang anak bali menjadi manusia bali yang mendapatkan kedudukannya sebagai orang bali dewasa dengan segala hak dan kewjibannya dalam adat dan agama.

Mari mulai dengan tumpek pengatag atau tumpek pengarah, ini adalah simbol bagaimana anak Bali yang akan menikah memberi tahukan keluarga, sahabat atau kalau dalam Balinese term they say “ nyen ane pantes orahin” termasuk pihak calon mempelai

Kemudian saat sugihan jawa (jaba)-perubahan ‘w’ menjadi ‘b’ ini ada rumusannya yg tdk akan dibahas di sini, sugiin, mesugi, membersihkan sisi luar tubuh..maksudnya membersihkan rumah, lingkungan dan sekitarnya. Maklum kita akan menikah, mendatangkan sang permaisuri, selayaknya rumah, dan pekarangan harus bersih, indah dan membanggakan. Lanjutkan dengan sugihan Bali atau wali, ini pembersihan tubuh, hingga ke pikiran. Gampangnya membersihkan diri secara holistic, ketika pernikahan sudah menjelang, hendaknya pikiran kita harus bersih, tidak mendua, tidak ragu dan yang pasti harus yakin, confident. Nah kalau sudah lingkungan bersih diri juga bersih barulah kita jemput mempelai, sang pramisuari

Kemudian ada dikenal penyajaan atau penyekeban, ini adalah simbol ketika laki-laki dan perempuan sudh ada dalam kamar mesekeb, mengkeb tertutup karena akan melakukan ritual yang paling penting dalam proses penciptaan “Sanggama”.

Setelah penyekeban ada penampahan, apa yang dilakukan dalam penamphan… pasti pembaca sudah bisa menebak… tapi tunggu dulu. Baca dulu ini pelan-pelan sabar-sabar heheheh….

Saat penampahan umat akan memenjor, ini simbol membuat “lingga” itu berdiri tegak alias ereksi setelah ereksi baru boleh atau baru bisa dgunakan menembus hymen atau selaput dara (h).  nah tebakan pembaca benar adanya, penampahan.. saat darah tertumpah.. darah apa? Darah suci sang gadis yang telah memurti menjadi istri.

Setelah penembusan hymen, barulah terjadi pertemuan kama bang dan kama petak. Proses penciptaan, regenaration terjadi. Ini kita rayakan dengan Galungan yang merupakan puncak sanggama ditandai dengan menyemburnya sperma menuju ovum, ejakulasi atau klimax.. dan proses pembuahan pun dimulai,  karena hanya dengan terjadinya penciptaan adat dan agama ini bisa lestari. Begitu  indah dan menyenangkannya proses ini sehingga keesokan harinya kita kenal dengan manis galungan , telah merasakan nikmatnya sanggama dan syukur telah terjadinya pembuahan

Ketika sperma (kama bang) dan ovum (telor) bersatu.. maka akan tumbuh zygot, janin sang hyang rare… yang akan bertapa selama sembilan bulan dalam garbaning istri (perut terkuat) dan setelah sembilan bulan sang hyang rare akan keluar ke bumi.

Maka di Kuningan itu kita bersenang-senang membuat perayaan nasi kuning, masang kolam,cakra untuk menyambut dan bersyukur atas lahirnya sang hyang rare, yang diharapkan bisa menjadi suputra kelak. Coba hitung hari setelah manis galungan menuju kuningan itu ada masa senggang 9 hari ini mewakili 9 bulan dalam kandungan

Jadi, mari kita rayakan galungan sebagai pengingat akan dimulainya masa grahasta.. sehingga kita bisa menjaga dan mensyukuri mahligai rumah tangga yang kita bangun, dan mempersiapkan dengan baik anak-anak yang kelak akan membuatkan jalan bagi kita ….

Category: Uncategorized  | 4 Comments
Author:
• Monday, December 13th, 2010

Sejak Desember 2010 Wikileaks menjadi begitu populer, bahkan kontroversi yang dibangunnya telah melahirkan sebuah perang di dunia maya. Sang pendiri Julian Assange medio Desember 2010 dibredel polisi Inggris. Putin , sang Kamred Rusia tersenyum sinis, langsung menohok negara barat melukai demokrasi yang mereka bangun dan digembar-gemborkan sendiri dengan  munculnya skandal wikileaks ini. Komunitas di dunia maya pun terbelah, pendukung wikileaks membalas penangkapan dan penutupan wikileaks dengan menyerang situs-situs yang merepresentasikan Amerika.

Entah latah atau memang budaya plagiator yang kuat, di Indonesia pun tanggal 10 Desember 2010 meluncurlah situs peretas dokumen Negara beralamat di www. Indoleaks.org yang kurang lebih menjadi wikileaks lokalan. File-file era Sharto pun diobral, catatan penelitian tentang Lapindo  diunggah dan hasil visum para pahlawan revolusi yang telah berdebu ikut digeber.

Berbicara kehebohan yang dimunculkan oleh wiki Leaks dan Indo Leaks seharusnya tidak perlu terjadi, kalau saja mereka bisa belajar dari komunitas “leak” yang telah ada dan terkenal lebih dahulu di Bali,  komunitas ini telah ada ribuan tahun silam, juga bermain di dunia maya meskipun tidak memiliki alamat di world wide web (WWW) dan tidak menggunakan Hiperteks Trasfer Protocol (HTTP) Bali Leak sendiri diyakini memiliki komunitas  yang cukup rahasia dan memiliki juga tempat berkumpul yang menjadi rahasia umum.

Yang menjadi komunitas ini memegang password untuk bisa mengakses perkumpulan dan ilmu-ilmu yang disharing dan pemberian password oleh sang admin sangatlah ketat. Sebelum mendapatkan password calon anggota yang telah terpilih harus menyetujui perjanjian, seperti yang harus kita lakukan saat mau mengistall sebuah program baru.

Kenapa komunitas leak bali yang telah ribuan tahun tidak bias ditangkap, dibredel dan tidak membikin sensasi sesaat seperti wiki leaks yang dari ribuan filenya, sangat banyak yang cuma berisi berita tentang makanan, budaya dan berita lain yang tidak penting, meskipun ada juga beberapa dokumen yang berbahaya, bahkan bisa menimbulkan chaos. Semata-mata karena adanya program auto run yang bernama ajawera.

Ajawera adalah sebuah program yang memproteksi file-file yang ada dalam leak Bali sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa mengaksesnya. Orang-orang ini dipilih karena dianggap memiliki tanggung jawab terhadap penggunaan file yang disharing tersebut dan bisa mengamankan file-file itu dari penggunaan yang tidak penting.

Kalau saja program auto run ajaware tidak otomatis terinstall saat orang mengklik persetujuan ketika diterima sebagai anggota komunitas yang bisa mengakses file-file yang beberapa diantaranya bahkan mampu mempengaruhi hidup matinya seseorang bahkan suatu Negara (kerajaan) sekalipun- tentunya sejarah telah mencatat sejarah Ki Balian Basur dan Juga Ratu Gde Dalem Peed- bisa dibayangkan apa yang terjadi pada dunia ini.

Sang admin, atau gurulah yang bertanggung jawab penuh atas password yang dia berikan dan berpegang dari licensee agreement yang telah ditanda tangani oleh para anggotanya (muridnya) dia akan turun tangan mencabut password yang telah diberikan bahkan bila perlu memberikan hukum an yang setimpal bagi yang telah menyalahgunakan file yang ada di dalam database leak Bali.

Jadi.. mari belajar memahami ajawera dan nanti bolehlah belajar leak bali suatu saat nanti :)

Author:
• Saturday, November 06th, 2010

Sudah berganti bulan pada kalender di dindingku, tapi tayangan di TV belum juga berganti. DUka dan ketakutan akan letusan merapi dan gempa yg kembali terjadi di mentawai masih tersaji menguras hati.

Bantuan materiil sudah terkirim, meskipun kadang terhambat karena cuaca dan kondisi yang lain. kecemasan dan gelisah hati karena mata masih melihat anak-anak yang tertidur dalam kondisi yang tidak nyaman, para lansia yang gamang menatap makanan yg mereka terima.

Rona kecemasan, rasa was-was dan ketakutan mendengar sirena, merasakan getaran dan melihat gulungan awan seakan kami rasakan dari kenyaman rumah yang masih diberikan Hyang Widhi, Dia yang membuat segalanya bisa terjadi.

Satu mimpiku, kita semua, anak-anak bumi pertiwi yang masih merasakan nikmat nusantara memanjatkan doa buat saudara-saudara kita yang sedang berada di lokasi bencana. baik para korban maupun para relawan.

Kita kirimkan doa-doa terbaik, teriklas yang bisa kita lakukan setiap saat…agar bencana segera berlalu dan jangan lupa mohonkan juga yang terbaik bagi kemaslahatan bangsa ini, mohonkan juga agar kita segera diberikan pemimpin-pemimpin yang amanah.

Category: Uncategorized  | One Comment
Author:
• Thursday, October 28th, 2010

Ini salah satu mimpiku burukku. Aku selalu bertanya kenapa setiap bencana besar yang melanda negeri ini selalu terjadi di daerah pinggiran, daerah yang tidak penuh hiruk pikuk dan tentu saja daerah yang penduduknya masih lebih dekat kepada alam.

5 Oktober 2010, Banjir badang yang laksana tsunami menghancurkan Wasior, sebuah kota kecil di papua sana, korbannya pun ratusan rakyat kecil meninggal diterjang kekuatan alam. Kenapa bukan freeport kau banjir badangkan?

25 Oktober 2010 kepulauan Mentawai di Sumatra Barat di guncang gempa yang mengundang tsunami dan meratakan beberapa desa beserta mengambil ratusan jiwa rakyat kecil.

26 Oktober 2010, Merapi mengeluarkan awan panas yang menyapu desa yang dilaluinya dan membuat puluhan orang meninggal terpanggang dan beberapa lainnya meninggal karena tercekat debu vulkanik

semua bencana alam yang memakan korban di bulan oktober ini terjadi begitu dahsyat dan memilukan, apalagi dengan kecanggihan teknologi, setiap saat di layar TV kita disuguhi paparan yang memilukan hati dan menyayat perasaan. Sungguh menguras rasa duka yang kita miliki. menyaksikan bayi yang meninggal dalam gendongan, melihat seorang renta yang kehilangan sanak famili dan melihat serakan mayat di antara jerit tangis.

Kenapa alam begitu beringas…. dia kirimkan bencana dari segala arah. dari sungai, dari laut dan dari puncak gunung…

tetapi sayang, semua keberingasan alam hanya menelan korban orang-orang yang hidup nun jauh dari hiruk pikuk kota besar, yang di mana katanya dosa berlimpah

Apakah alam sudah seperti para hakim, jaksa dan polisi di negeri ini yang hanya berani kepada kaum miskin terpinggirkan? Kenapa tidak kau buat gempa besar yang menenggelamkan jakarta, kenapa tidak kau semburkan lumpurmu di dolly, kenapa????

APakah begini caramu membuat orang-orang besar yang kaya dan tinggal di kota-kota besar sadar akan kelemahannya.. apakah ini caramu memberikan peringatan kepada manusia yang telah mengoyak dan menghancurkanmu?

Aku mungkin maklum, kenapa kau pilih daerah-daerah itu… karena mereka akan lebih takut kepadamu dan tentu saja tidak akan banyak protes…disamping itu niatmu memberikan orang-orang arogan dan dibutakan hatinya demi kenikmatan sesat kesempatan untuk sadar diri mungkin memang harus begini…

sayup-sayup kudengar sabda alam: kalau kota-kota besar yang bergelimang dosa kuhancurkan…pelajaran apa yang bisa diberikan…mereka yang tinggal di lereng merapi, di pulau-pulau kecil mentawai dan di pedalaman papua sana tidak akan pernah belajar, bahkan mereka tidak pernah tahu.. karena mereka tidak punya tv, mereka akan berkata, karena sudah tahu, itulah hukuman laknat manusia yang telah bergelimang dosa dan memperkosa alam ini…